Produk Herbal Tuntas Atasi Penyakit Bakteri

Penggunaan antibiotik secara terus-menerus dapat mengakibatkan resistensi antimikroba dan menimbulkan residu pada daging dan telur yang dihasilkan. Maka dari itu, penggunaan produk herbal terstandar menjadi alternatif untuk menghasilkan pangan yang aman.
Pemberian produk herbal sebagai pengobatan alternatif memiliki banyak manfaat bagi kesehatan ternak. Produk herbal dimanfaatkan untuk mengurangi penggunaan antibiotik atau obat-obatan kimia yang berlebihan pada ayam. Hal tersebut dikhawatirkan akan mengakibatkan resistensi bila pemberiannya tidak sesuai aturan secara terus menerus dan menimbulkan residu pada hasil ternak yang dihasilkan.
Produk herbal dikenal memiliki berbagai kandungan zat bioaktif yang dihasilkan dari ekstraksi tumbuhan yang berkhasiat dan mampu berfungsi sebagai suplemen, antibakteri, antiparasit, maupun antiprotozoa.
Dalam menjaga kualitas produk ternak, penggunaan produk herbal juga dilakukan oleh H. Asrul Saleh, pemilik Puncak Ternak KK, Peternak layer asal Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Keluarga H. Asrul memulai beternak sejak tahun 1989 dengan populasi yang terus bertambah hingga mencapai ratusan ribu ekor saat ini. Ia menceritakan bahwa kondisi lingkungan menjadi tantangan tersendiri baginya. Penyakit CRD, Coryza dan Colibacillosis menjadi penyakit yang seringkali muncul di peternakannya.
“Frekuensi terkena penyakit ini sangat sering terjadi dikarenakan kandang kami menggunaan kandang terbuka yang mengakibatkan rentan terkena penyakit. Munculnya penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan lingkungan sekitar. Kami dulu sering menggunakan obat-obatan kimia atau antibiotik untuk pengobatan,” jelasnya.
Seiring dengan berkembangnya ilmu kesehatan di peternakan dan adanya pelarangan penggunaan AGP oleh pemerintah, sejak itu H. Asrul sudah mulai mewaspadai penggunaan antibiotik karena bahaya resistensi antimikroba jika terus-menerus digunakan. Oleh karena itu, H. Asrul pun kemudian berkonsultasi dengan personel Medion untuk mengatasi hal tersebut.
“Kami sangat terbantu karena direkomendasikan menggunakan produk herbal dari Medion untuk mengatasi penyakit-penyakit yang muncul, dan ternyata sama efektifnya dengan penggunaan obat kimia,” tuturnya.
Sejak hadirnya produk FITHERA, H. Asrul beralih menggunakan produk tersebut karena sudah terjamin mutunya dengan bahan baku pilihan dan telah terstandar melalui pengujian pra klinis. FITHERA merupakan obat alami cair mengandung ekstrak herbal yang bekerja mempercepat penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
“Penggunaannya pun sangat mudah, dengan menggunakan dosis 0,4 ml/kg bobot badan untuk penyakit CRD, Coryza, dan Colibacillosis. FITHERA dapat diberikan selama 7 hari berturut-turut. Kemudian untuk penanganan lainnya dengan menerapkan biosekuriti yang ketat agar ternak lebih terjaga,” terang Asrul.
Selama menggunakan FITHERA, H. Asrul merasakan efektivitas produk yang memang terbukti. Penggunaan produk-produk Medion lainnya pun sangat membantu menjaga kesehatan ternaknya. Menurutnya, sejak pertama beternak dirinya sudah menggunakan produk-prroduk Medion untuk melindungi peternakan layer miliknya.
Berdasarkan pengalamannya selama ini, FITHERA dapat mendukung pengobatan yang diberikan, membuat nafsu makan ayam kembali normal, dan produksi pun dapat tercapai. Keuntungan lainnnya yang didapatkan adalah telur yang dihasilkan bebas dari residu obat-obatan sehingga lebih berkualitas dan aman untuk dikonsumsi.
H. Asrul pun sangat terbantu dengan mudah didapatkannya produk-produk Medion khususnya FITHERA. Ia selalu merekomendasikan FITHERA kepada sesama rekan peternak lainnya di Sidrap. “Tidak ada yang mengharapkan adanya penyakit. Namun semoga Medion selalu menghadirkan produk berkualitas bagi ternak-ternak kami, teruslah berinovasi untuk menghasilkan produk-produk herbal yang bermanfaat bagi para peternak Indonesia,” pungkasnya.
Sumber : Majalah Poultry Indonesia, Februari 2021
Suplemen Herbal Tingkatkan Imunitas Ayam

Imunostimulan mampu meningkatkan sistem kekebalan pada kondisi imunosupresi, sehingga
daya tahan tubuh ayam selalu optimal
Naltri Leosta lahir dari keluarga yang berlatar belakang peternak. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu ayah ibunya mengurus peternakan ayam petelur (layer) milik mereka. Ia pun bercita-cita untuk melanjutkan usaha orang tuanya tersebut. Setelah menamatkan pendidikan menengah atas, Naltri langsung terjun ke bisnis layer. Bermodalkan ilmu dan pengalaman yang didapat dari orang tua, kini Naltri telah sukses mengembangkan usaha peternakannya. Setiap hari, peternakan bernama Bastari Grup yang berada di Lintau, Sumatera Barat ini mengirimkan telur produksinya ke Bengkulu. Khusus untuk perawatan kesehatan ayamnya, Naltri mempercayakan kepada Medion. “Kami mengenal Medion sudah lama. Sejak orang tua saya memulai usahanya sekitar 1999. Hingga kini, peternakan kami tetap setia dengan produk-produk Medion. Hampir 90 % produk kesehatan hewan di peternakan ini menggunakan produk Medion. Seperti vaksin, obat-obatan, suplemen, dan lainnya” ungkap Naltri.
Suplemen Herbal
Menurut Naltri, Medion memiliki rangkaian produk yang lengkap. Selain itu pelayanannya juga bagus dan cepat. Bahkan pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, pengiriman produk tetap lancar. Naltri selalu mengandalkan produk-produk Medion. Contohnya pada saat ayamnya mengalami penurunan nafsu makan yang dapat menurunkan kekebalan tubuh, ia memberikan suplemen tambahan yaitu Imustim. Atau pada saat ayam dalam masa pemulihan dari penyakit, ia juga memberikan Imustim.
Imustim merupakan suplemen herbal berbentuk cair yang berperan sebagai imunostimulan. Imunostimulan adalah bahan yang dapat membantu meningkatkan fungsi Imunostimulan mampu meningkatkan sistem kekebalan pada kondisi imunosupresi, sehingga daya tahan tubuh ayam selalu optimal sistem kekebalan. Biasanya, imunostimulan juga digunakan pada kondisi imunosupresi, misalnya kondisi stres. Dengan demikian melalui pemberian imunostimulan, kekebalan atau daya tahan tubuh ayam selalu optimal.
Imustim diformulasikan untuk menstimulasi sistem imun, meningkatkan nafsu makan dan pemulihan kesehatan. Produk ini aman digunakan untuk pemakaian jangka panjang serta dapat diberikan sebelum dan setelah vaksinasi dan setelah pemberian obat atau vitamin. Imustim diberikan 0.5 – 1 ml per 2 liter air minum 3 hari berturut-turut sebelum dan setelah periode vaksinasi agar hasil vaksinasi lebih optimal.
“Nafsu makan ayam terlihat meningkat setelah diberikan Imustim. Saya puas dengan hasil dan kualitas produk ini. Saya sudah mempraktekkannya langsung di lapangan. Bukan sekadar teori. Alhamdulillah sejauh ini hasilnya memuaskan,” ujarnya.
Naltri sangat yakin dengan produk-produk Medion. Ia mengaku tidak tertarik untuk menggantinya dengan produk lain yang sejenis. “Kalau sudah yakin dengan satu produk, saya akan menggunakannya terus. Kalau hasilnya sudah bagus, untuk apa diubah lagi,” terangnya. Ia berharap Medion terus berinovasi dan juga terus meningkatkan kualitas dan layanannya.lTROBOS/Adv
Perhatikan Awal Pemeliharaan Agar Pertumbuhan Tak Tertekan

Usaha bidang perunggasan merupakan salah satu industri yang menjanjikan karena perputaran uang di dalamnya sangat cepat. Kendati demikian, bisnis ini banyak diterpa tantangan mulai dari fluktuasi harga jual dan harga pakan, sistem perkandangan, serangan penyakit, hingga cekaman cuaca ekstrem yang belakangan
kerap terjadi.
Dibutuhkan kesabaran dan ketekunan menjalani bisnis hewan berkaki dua ini. Seperti yang dirasakan oleh Ali Akbar, yang merupakan peternak mitra dari PT Inti Tani Satwa Kendari KL, yang beralamat di Desa Laluyu, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
Beternak broiler dan layer menjadi fokus utama Akbar sejak berpuluh tahun silam. Berbagai rintangan sudah ia alami, apalagi kini ditambah merebaknya pandemi COVID-19 yang urung usai.
“Tahun ini memang agak berat terutama pada ayam potong, kalau pada ayam petelur khususnya untuk wilayah Sulawesi Tenggara masih agak stabil, cukup bagus dan tidak terlalu down harganya. Kalau ayam potong selama pandemi harganya jatuh dari HPP (harga pokok produksi),” ujar Akbar dalam wawancaranya bersama Infovet.
Selain itu, dijelaskan Akbar, faktor jarak pengiriman pakan maupun DOC turut melengkapi tantangan dalam bisnisnya. “Karena di Sulawesi Tenggara itu pengiriman bahan pokok produksi dari Makassar semua, sehingga biasa terlambat untuk sampai di lokasi kandang saya seperti pakan dan DOC. Jadi memang jalur distribusinya agak lama karena belum ada pabrik pakan terdekat. Semua di supply dari Makassar dan Surabaya. Pakan baru sampai di lokasi kandang sekitar 3-5 hari, kalau DOC sekitar 28 jam perjalanannya. Hal ini seringkali menyebabkan ayam menjadi stres,” jelas dia.
Kondisi tersebut membuatnya harus ekstra dalam memperhatikan ternakternaknya yang kini sudah mencapai puluhan ribu ekor. “Kadang-kadang ayam itu stres dalam perjalanan sampai ke kandang, pernah juga kena heat stress. Udah gitu saya masih menggunakan kandang open house, jadi cekaman panas kadang kala menjadi hal yang dapat menurunkan performa, misalnya bobot ayam broiler tidak seragam. Jadi harus kerja ekstra pada pemeliharaan ayam umur 0-15 hari sama menjelang usia panen,” ungkap Akbar.
Untuk mengakali hal itu, dirinya melakukan pemberian herbal berupa ekstrak curcuma, multivitamin, asam amino dan elektrolit untuk menurunkan stres dan meningkatkan nafsu makan ayam, atau dengan pemberian air infus atau sejenis air yang mengandung isotonik sekitar umur 0-7 hari. Kendati demikian, pencapaian keseragaman bobot badan broiler diakui Akbar masih sulit dilakukan.
Dari situ kemudian ia disarankan menggunakan FASBRO oleh personel Medion untuk mengejar keseragaman bobot badan ayam. “Awalnya coba-coba, ternyata hasilnya lebih bagus. Kita berikan diumur 7-14 hari untuk mengejar ketertinggalan bobot badan. Dosis yang digunakan tergantung dari bobot badan ayam. Selain itu, FCR juga menjadi lebih ideal. Memang reaksinya agak lambat karena obat herbal, tetapi hasilnya bisa melewati bobot badan dari standar yang ditentukan,” terang Akbar.
FASBRO sendiri merupakan salah satu suplemen herbal yang baik untuk membantu mengoptimalkan FCR, meningkatkan nafsu makan dan meningkatkan kualitas karkas pada ayam.
“Selain itu saat ayam umur 14 hari mengalami gangguan pencernaan, FASBRO sangat cepat untuk memulihkan kesehatannya, apalagi efek sampingnya relatif kecil. Selain di awal pemeliharaan, pemakaian FASBRO juga kita lakukan lagi sebelum panen sekitar umur 23-28 hari,” ungkapnya. Setahun lebih menggunakan FASBRO, Akbar merasa sangat puas dengan apa yang ia dapat. “Pencapaian bobot badan ayam
menjadi maksimal, sehingga lebih efisien dan mendapat bonus bobot badan dari perusahaan inti sebagai mitra. Sudah delapan periode menggunakan FASBRO, sejauh ini sangat memuaskan,” pungkasnya.
Ia pun berharap, kualitas dan mutu dari produk Medion terus dipertahankan, agar peternak terbantu dalam menjalani usahanya.
Kenali Mendalam Virus ND Terkini dan Pengendaliannya

Penyakit Newcastle Disease (ND) atau yang sering dikenal dengan tetelo adalah salah satu yang membuat kerugian yang cukup besar di peternakan. Penyakit ini selalu menghampiri kandang hampir di setiap musim. Kerugian yang diakibatkan oleh infeksi ini cukup besar, dilihat dari mortalitas akibat ND mencapai 100% untuk serangan ND velogenik. Kualitas dan kuantitas produksi telur menurun dengan variasi antara 9-60%. Hal tersebut juga menyebabkan tingginya tingkat culling ayam di kandang. Selain itu, ND termasuk penyakit imunosupresan sehingga penyakit lain akan mudah masuk.
Kejadian penyakit ND masih cukup tinggi sampai pertengahan tahun 2020. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh tim Technical Education and Consultation Medion, terbukti angka kejadian ND masih cukup tinggi selama 2,5 tahun terakhir. Pada tahun 2019 terjadi peningkatan kasus sebesar 19,74% dibandingkan tahun 2018, sedangkan pada tahun 2020 angka kejadiannya sudah cukup tinggi meskipun baru sampai bulan Mei.
Penyebab ND
Penyakit Newcastle Disease virus disebabkan oleh virus Avian paramyxovirus-1 (APMV-1) termasuk dalam genus Avulavirus dalam famili Paramyxoviridae. Virus ND memiliki genom single stranded (ss) RNA dengan struktur beramplop.
Klasifikasi virus ND didasarkan 3 hal, yang pertama adalah berdasarkan serotipenya. Penggolongan ini berdasarkan kesamaan antigenik pada uji hemaglutinasi inhibisi (HI), dikenal 9 serotipe Avian paramyxovirus, tipe 1 (APMV-1) sampai tipe 9 (APMV-9). Virus ND yang umum menyerang unggas termasuk dalam APMV-1. Penggolongan kedua adalah berdasarkan patotipe-nya. Penggolongan ini dilakukan dengan melihat virulensi/keganasan penyakit, dibedakan menjadi 4 yaitu :
Velogenic (ganas) Kelompok ini memiliki keganasan paling tinggi dan dibagi menjadi dua bentuk, yang pertama adalah Viscerotropic velogenic. Serangan ND kelompok ini bersifat akut dengan mortalitas yang tinggi. Perubahan khas yang sering ditemukan pada ayam yang terinfeksi virus ini ialah luka dan hemoragi pada usus. Ayam akan menunjukkan gejala lesu, penurunan nafsu makan, produksi telur secara drastis, diare dan tingkat kematiannya >90%. Bentuk kedua adalah Neurotropic velogenic yang ditandai dengan munculnya gangguan pernapasan serta kelalaian pada syaraf yang umum disebut torticolis atau tetelo. Ayam yang terserang menjadi lemah karena kesulitan makan dan minum.
Mesogenic (sedang) Tingkat kematian yang ditimbulkan relatif rendah (±10%), terlihat gangguan pernapasan akut dan gangguan syaraf pada beberapa ayam. Strain Kumarov, Roakin dan Mukteswar merupakan beberapa strain virus ND yang termasuk dalam patotipe mesogenic. Penurunan produksi telur akibat infeksi virus ini bisa berlangsung selama 1-3 minggu.
Lentogenic (ringan) Kelompok ini menimbulkan gangguan pernapasan yang bersifat ringan, tidak menunjukkan gejala syaraf dan kadang-kadang bersifat subklinis (tidak menampakkan gejala yang spesifik). Penurunan produksi tidak signifikan dan kematian hampir tidak ada. Strain yang termasuk dalam kelompok ini antara lain B1, F, V4 dan La Sota. Strain ND dari kelompok inilah yang sering digunakan sebagai vaksin aktif.
Asymptomatic enteritic Termasuk virus kurang mematikan dengan tempat bereplikasi terutama di saluran pencernaan (usus). Kelompok ini tidak menimbulkan suatu gejala penyakit tertentu.
Penggolongan ND yang ketiga adalah berdasarkan enotipe-nya. Penggolongan berdasarkan genotipe ini muncul karena perkembangan teknologi terkini. Klasifikasi dilakukan berdasarkan materi inti virus melalui DNA sequencing. Dalam penggolongan ini, virus ND dibedakan menjadi 10 genotipe. Genotipe yang dominan bersirkulasi di dunia dan bersifat virulen adalah : V, VI, VII dan VIII.Genotipe yang ada di ASIA adalah VI (1960 s/d 1985) kemudian belakangan ditemukan genotipe VII.
Update Penyakit ND di Indonesia
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh tim Technical Education and Consultation PT. Medion kasus ND dari tahun 2019 sampai 2020 baik pada ayam broiler maupun layer masih terus ditemukan. Terlihat juga pada akhir tahun 2019 sampai 2020 saat musim penghujan dan pergantian musim, kasus ND mengalami kenaikan. Hal ini menjadi pertanyaan dikarenakan saat ini program vaksinasi ND di peternakan sudah tergolong rapat, dan saat dilakukan uji serologi, hasil uji menunjukkan titer yang protektif, namun kasus ND masih terus muncul.
Medion melakukan mapping/pemetaan virus ND dengan mengumpulkan sampel dari ayam yang diduga terinfeksi ND dari lapangan. Sampel organ kemudian diuji dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dilanjutkan dengan uji DNA sequencing. Proses DNA sequencing dilakukan untuk melihat susunan genetik dari virus ND. Hasil dari pemetaan tersebut ditemukan bahwa virus ND yang dominan bersirkulasi di Indonesia saat ini adalah virus ND Genotipe 7 (velogenic) dimana virus tersebut terpisah jauh dengan virus ND lama Genotipe 2 (La Sota). Terdapat 2 subgenotipe G7 yang beredar di Indonesia yaitu G7h dan G7a/G7i (Shohaimi et al, 2015 & Dimitrov et al, 2016) dengan sebaran kasus seperti terlampir pada peta di bawah ini.Berdasarkan peta tersebut, hampir di seluruh wilayah Indonesia ditemukan kasus ND baik genotipe 7h maupun genotipe 7a.
Diagnosa ND di Lapangan
Secara alami, virus ND akan menginfeksi ayam secara inhalasi (terhirup/melalui saluran pernapasan) dan ingesti (termakan/melalui saluran pencernaan). Saat proses infeksi, ayam yang sakit akan mengeluarkan virus ND dalam jumlah besar, terutama pada feses. Akibatnya penularan ND dapat terjadi melalui oral akibat ingesti feses yang mengandung virus, melalui pakan atau air minum yang terkontaminasi atau per inhalasi akibat menghirup partikel feses yang telah mengering. Selain feses, mukus (lendir) dari ayam yang terinfeksi ND juga akan mencemari udara sehingga penularan ND dapat berlangsung lebih cepat.
Setelah menginfeksi ayam, virus ND akan menimbulkan gejala klinis setelah 2-15 hari (rata-rata 5-6 hari). Cepat lambatnya masa inkubasi maupun gejala klinis dan perubahan patologi yang ditimbulkan, dipengaruhi oleh jenis virus ND yang menginfeksi, dosis atau konsentrasi virus yang menginfeksi, jenis dan umur ayam yang terinfeksi, status imunitas, komplikasi dengan penyakit lain serta kondisi lingkungan.
Gejala klinis yang terlihat apabila ayam terinfeksi ND antara lain hilangnya nafsu makan, feses berwarna hijau lumut dan kadang-kadang disertai gumpalan putih, ayam menjadi gemetar, dan muncul kelainan pada syaraf (kelumpuhan pada kaki dan atau sayap, leher terpuntir/torticolis dan ayam berputar-putar). Selain itu, angka kematian akibat ND bisa mencapai 100%.
Selain gejala klinis yang tampak pada ayam, pada ayam petelur fase produksi, kelainan juga ditemukan dari telur ayam yang dihasilkan, Secara kuantitas, produksi telur mengalami penurunan bervariasi mulai dari 9 sampai 60%, sedangkan dari segi kualitas, telur dari ayam yang terinfeksi ND biasanya berwarna pucat disertai ukuran telur yang kecil.
Patologi anatomi yang terlihat ketika dilakukan bedah pada ayam dengan gejala klinis mengarah ke ND antara lain adanya peradangan pada saluran pernapasan, meliputi laryng dan trachea.
Selain di sistem pernapasan, perubahan yang patognomonis akibat infeksi ND di saluran pencernaan adalah adanya radang pada bagian papila proventrikulus. Di dalam sistem pencernaan juga terdapat organ limphoid yang juga mengalami perubahan diakibatkan adanya infeksi ND yakni, radang pada caeca tonsil dan peyer patches. Kedua organ ini merupakan organ limphoid lokal yang akan mengalami perubahan ketika ada infeksi di daerah usus baik karena bakteri maupun virus seperti ND.
Pada sistem reproduksi ditemukan adanya peradangan pada daerah ovarium dan terkadang terlihat kelainan dari bentuk ovarium menjadi lembek atau membubur bahkan pecah di rongga peritoneum.
Dalam melakukan diagnosa, terkadang kita menemukan perubahan baik dari gejala klinis ataupun patologi anatomi yang hampir mirip dengan penyakit ND (sebagai differential diagnose). Berikut kami tampilkan beberapa penyakit tersebut (Tabel 1.).
Dikarenakan terdapat banyak jenis penyakit yang hampir mirip dengan ND, dalam diagnosa di lapangan sering dikelirukan dengan penyakit-penyakit tersebut. Oleh karena itu diperlukan adanya peneguhan diagnosa menggunakan uji laboratorium, bisa dengan uji serologi, hingga isolasi dan identifikasi agen penyebab penyakit melalui metode polymerase chain reaction (PCR) dan DNA sequencing.
Upaya Pengendalian ND
Dalam mengendalikan penyakit ND membutuhkan kombinasi dari beberapa faktor seperti vaksinasi, penerapan biosecurity yang ketat serta ditunjang dengan sistem manajemen pemeliharaan yang optimal.
Sering kita lupakan bahwasanya kondisi kesehatan ayam juga berkaitan erat dengan kondisi lingkungan dimana ayam tersebut tinggal. Faktor kenyamanan seperti kualitas udara yang baik, manajemen litter, air minum yang bersih, serta kualitas pakan yang baik. Ciptakan kondisi kandang yang nyaman dengan memperhatikan jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan sebisa mungkin dilakukan sistem pemeliharaan “all in all out” serta penerapan istirahat kandang minimal 2 minggu.
Perketat biosekuriti dengan membatasi lalu lintas orang/kendaraan yang keluar-masuk kandang. Tidak menutup kemungkinan virus ND terbawa melalui roda kendaraan yang keluar-masuk kandang. Lakukan desinfeksi baik kendaraan maupun personil, terutama jika datang dari peternakan lain yang terinfeksi. Alas kaki sebaiknya disikat karena penyelupan/penyemprotan desinfektan saja tidak mampu menembus virus yang terdapat pada sela-sela alas sepatu. Untuk menekan penularan penyakit melalui air minum, lakukan sanitasi dengan memberikan antiseptik seperti Desinsep atau Neo Antisep.
Lakukan sanitasi kandang dan peralatan (kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot) dengan Neo Antisep atau Medisep, kemudian cegah hewan liar dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang. Apabila sedang terjadi outbreak maka desinfeksi dilakukan setiap hari untuk menurunkan jumlah agen infeksi di lingkungan kandang. Sanitasi tempat minum dan tempat pakan dilakukan dengan pencucian rutin serta desinfeksi (Medisep) setiap 2 kali sehari.
Vaksinasi dapat mencegah kerugian yang ditimbulkan dari serangan penyakit ini. Untuk menunjang efektivitas vaksinasi perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
Kondisi ayam sehat sebelum divaksin
Pastikan ayam dalam kondisi sehat saat akan divaksinasi ND sehingga titer antibodi yang terbentuk lebih optimal.
2. Tepat Vaksin yang digunakan
Gunakan vaksin ND yang kualitasnya masih baik, segel vaksin masih utuh, bentuknya tidak berubah, vaksin belum kadaluarsa, serta etiketnya masih terpasang dengan baik. Selain dari segi fisik, penting juga untuk mempertimbangkan penggunaan vaksin ND yang homolog dengan virus ND lapangan. Kegagalan hasil vaksinasi juga bisa disebabkan oleh ketidaktepatan pemilihan vaksin. Vaksin yang akan diberikan untuk ayam haruslah disesuaikan dengan jenis dan keganasan penyakit yang sering menyerang. Medion memproduksi vaksin untuk mencegah penyakit ND yang homolog dengan virus ND G7 lapangan, yaitu vaksin Medivac ND G7 Emulsion, Medivac ND G7-EDS Emulsion, Medivac ND G7-EDS-IB Emulsion, dan Medivac ND G7-IB Emulsion.
Namun penggunaan vaksin aktif seperti Medivac ND La Sota, Medivac ND Hitchner B1, Medivac Clone 45, atauMedivac ND-IB tetap perlu diberikan untuk menggertak pembentukan kekebalan ND secara cepat dan protektif.
3. Tepat program vaksinasi
Berikut contoh program vaksinasi pada ayam pedaging dan petelur yang dapat disesuaikan dengan kondisi farm setempat (Tabel 2). Pengulangan vaksinasi ND di masa produksi jika menggunakan vaksin aktif bisa dilakukan 1-2 bulan sekali, sedangkan jika menggunakan vaksin inaktif bisa dilakukan 2-3 bulan sekali. Jadwal revaksinasi yang tepat bisa juga didasarkan atas hasil monitoring titer antibodi terhadap ND.
4. Perhatikan cara handling/penanganan vaksin ND sejak dibeli hingga diberikan pada ayam.
Saat distribusi dan penyimpanan sementara, suhu vaksin ND harus selalu terkondisikan pada suhu 2-8°C.
Sebelum diberikan ke ayam, proses thawing harus diperhatikan. Thawing bertujuan menaikkan suhu vaksin secara bertahap yang sebelumnya 2-8°C mendekati suhu tubuh ayam (±41°C) atau sampai vaksin tidak terasa dingin lagi, yaitu dengan suhu sekitar 25-27°C. Setelah di-thawing, sebaiknya vaksin ND tidak dimasukkan lagi ke dalam lemari pendingin/marina cooler yang suhunya 2-8°C karena bisa menurunkan potensi vaksin.
Pastikan jangka waktu pemberian vaksin ND tepat, di mana vaksin ND aktif harus habis diberikan maksimal 2 jam, sedangkan vaksin ND inaktif harus habis dalam waktu 24 jam. Jika vaksin ND tidak habis, maka sisanya tidak bisa disimpan untuk kemudian digunakan lagi. Sisa vaksin dan kemasannya harus direndam desinfektan terlebih dahulu, baru kemudian dibuang/dikubur.
5. Tepat metode aplikasi vaksinasi
Untuk mendapatkan antibodi yang optimal, pastikan vaksinasi ND pertama diberikan dengan melalui tetes mata/hidung agar mengaktifkan kelenjar harderian (organ kekebalan) di daerah mata. Sehingga terbentuk kekebalan lokal di daerah saluran pernapasan atas yang merupakan pintu masuk infeksi virus ND. Selain itu juga, agar tiap ekor anak ayam mendapatkan 1 dosis penuh. Sedangkan vaksin inaktif yang disuntikkan diberikan menyesuaikan dengan umur ayam, misalnya 0,5 ml untuk ayam dewasa melalui suntikan subcutan maupun intramuskuler, dan 0,2 ml untuk anak ayam melalui suntikan subkutan.
Demikian terkait update virus ND dan fenomena penyakit ND di lapangan. Perlu kita perhatikan pengendalian ND merupakan kombinasi dari beberapa faktor meliputi vaksinasi, biosecurity yang ketat serta dipadukan dengan manajemen pemeliharaan yang baik. Medion akan selalu mengikuti perkembangan kasus ND dengan selalu memantau perubahan isolat virus di lapangan agar senantiasa dapat menyediakan vaksin yang homolog dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Salam sukses selalu.