Produk Herbal yang Melindungi dan Memperbaiki Fungsi Hati

Penggunaan produk herbal dapat bermanfaat bagi kesehatan fungsi hati yang sangat berpengaruh pada proses metabolisme dan produktivitas ternak. Selain itu, penggunaan produk herbal dapat meningkatkan nilai hasil ternak. Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu kabupaten di pesisir Sulawesi Selatan. Wilayah ini sangat berpotensi dalam industri perunggasan karena merupakan wilayah yang strategis untuk pendistribusian hasil ternak ke berbagai wilayah di Indonesia bagian Tengah dan Timur.
Melihat potensi wilayahnya, Andi Sri Irma S.Pt kemudian mendirikan poultry shop sejak sembilan tahun lalu dan juga terjun langsung melakukan budi daya ayam petelur (layer). “Saya memilih untuk beternak layer dengan kapasitas awal sebanyak 1.600 ekor. Dalam kurun waktu 4 tahun populasi kami telah mencapai puluhan ribu ekor,” ujar pemilik Surya Multifarm KK ini. Irma menjelaskan bahwa perkembangan peternakan layer di wilayah Kabupaten Bulukumba terus meningkat. Hingga saat ini, pertumbuhan populasi layer mencapai 1,2 juta ekor. Adanya pelabuhan yang menghubungkan dengan Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Timur membuat produk hasil ternak Kabupaten Bulukumba dapat terdistribusi ke wilayah lain. “Diperlukan perhatian khusus untuk menjaga kualitas dan kestabilan hasil produksi untuk mencukupi permintaan telur dari peternakan kami,” ungkapnya.
Pengalaman Irma dalam memelihara peternakan layer yang berlokasi di Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba tentu juga diwarnai dengan pengalaman seperti gangguan kesehatan. Menurutnya, seringkali terjadi penurunan produksi telur dalam satu periode pemeliharaannya. Setelah dikonsultasikan dengan personil Medion dan dilakukan pemeriksaan pengecekan PCR/sequencing ternyata saat itu terjadi masalah pada fungsi hati.
“Saya mengamati jika cuaca sedang tidak bagus, amonia tinggi, munculnya mikotoksin dan pemberian obat yang tidak tepat dapat menimbulkan kerusakan pada fungsi hati,” jelasnya. Rusaknya fungsi hati dapat mengakibatkan proses metabolisme ternak terganggu sehingga nafsu makan menurun yang berdampak pada produksi telur, serta terjadi imunosupresi.
Diperlukan berbagai penanganan untuk pencegahannya dengan meningkatan biosekuriti, memperbaiki manajemen pakan, mengurangi penggunaan obat-obatan dan dilakukan pemberian hepatoprotektor. Setelah mengenal Medion melalui personilnya, Irma mengaku permasalahan tersebut dapat teratasi. “Kepuasan kami menggunakan produk Medion didukung dengan keberadaan para personiel Medion yang selalu cepat tanggap dan selalu hadir membantu kami. Selain itu, kami mengetahui informasi berbagai produk terbaru Medion salah satunya produk herbal Heprofit melalui buletin Info Medion yang selalu kami terima. Sejak awal kami sudah mempercayai kebutuhan obat-obatan dan suplemen ternak kami dengan menggunakan produk-produk Medion,” ujar Irma.
Penggunaan herbal sebagai hepatoprotektor
Ramuan herbal sudah banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan untuk menjaga kesehatan ternak dan mengurangi penggunaan antibiotik kimia yang berlebihan pada unggas. Heprofit merupakan suplemen cair yang mengandung ekstrak herbal untuk melindungi sel hati dari kerusakan atau sebagai hepatoprotektor.
“Saat produk Heprofit diluncurkan, kami diberikan tester untuk menggunakan produk ini, ternyata sangat berpengaruh. Kebetulan ada kasus di peternakan kami, ternak kami sakit lalu kami berikan obat bersamaan dengan pemberian Heprofit. Hasilnya dalam waktu 3 hari, ternak sudah sehat kembali. Pemberiannya sesuai dengan petunjuk penggunaan dengan pemberian sebanyak 0,5 ml per 2 liter air minum,” terangnya.
Selama ini menurut Irma bahwa penggunaan rutin Heprofit telah memberikan keuntungan karena terbukti mampu melindungi dan memperbaiki fungsi hati. Selain itu, kondisi hati kembali berfungsi normal sehingga ternak miliknya pun sehat, produksi telur tetap lancar, lebih aman saat diberikan kepada ternak, sangat efektif dan praktis untuk digunakan.
“Kami memiliki rencana untuk menambah nilai hasil produk ternak kami dengan memberikan obat-obatan, suplemen herbal dan tidak menggunakan produk kimia. Kami juga berharap semoga Medion terus berinovasi untuk menghasilkan varian produk-produk herbal lainnya yang bermanfaat bagi ternak- ternak kami,” tutupnya.
Inovasi Produk Herbal Medion, Dibawakan di Konferensi Luar Negeri

Medion terus melakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan peternak. Termasuk dengan dibuatnya produk-produk herbal di bawah payung Mediherba. Tidak hanya memproduksi produk-produk yang berkualitas, Medion pun berkomitmen untuk memberikan edukasi. Kali ini, Medion berpartisipasi dalam sebuah konferensi Internasional yang diselenggarakan pada 30 September – 1 Oktober 2021 secara daring. Konferensi tersebut bertajuk 3rd Edition Of Euro Global Conference on Food Science and Technology, dengan tema Foreground for Advanced Researches in Food Science and Technology.
Tujuan diadakannya konferensi tersebut adalah sebagai ajang untuk mentransfer pengetahuan dari penelitian ke industri dan mengubah keamanan pangan untuk masa depan yang aman dan sehat. Hadir sebagai pembicara, Elvina Jahja, selaku Direktur Animal Health PT Medion Farma Jaya, membawakan materi di hadapan para peserta yang merupakan para akademisi, profesional, pengusaha, industrialis, dan insinyur dari dua puluh negara.
Dalam kesempatan tersebut, Elvina mempresentasikan mengenai hasil penelitian produk herbal Medion terkini yang memiliki potensi dalam mengoptimalkan FCR broiler, serta menghasilkan kualitas karkas yang baik. Materi tersebut diberi judul, Performance and Carcass quality of Broiler supplemented with Curcuma longa and Morinda citrifolia Extracts.
Hal ini diperlukan mengingat tantangan dunia saat ini dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, menyebabkan kebutuhan akan protein hewani meningkat. Selain itu issue yang berkembang saat ini terkait dengan penarikan AGPs di berbagai
belahan dunia, yang dapat menyebabkan penurunan performa ternak, sehingga dibutuhkan suatu alternatif produk yang dapat digunakan sebagai substitusi dari AGPs. Diharapkan herbal yang diteliti ini dapat digunakan untuk produksi yang sustainable.
Medion sebagai salah satu perusahaan inovatif yang berfokus pada produk berkualitas, dan bersaing dikancah internasional, telah berhasil mengembangkan berbagai produk herbal, diantaranya Ammotrol, Kumavit, Imustim, Gingertol, Fithera, Super Strong, Red Power, Mastigrin, Respitoran, Heprofit dan Fasbro. Medion juga berkomitmen untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam dunia peternakan.
Teknologi AIDC, Implementasi Batch Tracking Lebih Baik

Medion telah melayani dunia peternakan selama lebih dari 45 tahun dan terus membuktikan bahwa kualitasnya mengikuti standar internasional. Setelah sebelumnya tersertifikasi ISO 9001:2008 mengenai Sistem Manajemen Mutu dan diperbarui dengan standar terbaru, yaitu ISO 9001: 2015, Medion terus mengambil peluang perbaikan dalam pelayanannya.
Selain telah mengimplementasikan Cold Chain Management atau Manajemen Rantai Dingin sebagai upaya memastikan vaksin yang didistribusi tetap terjaga kualitasnya, Medion juga terus mengikuti perkembangan teknologi terkait manufaktur dan distribusi. Medion memastikan bahwa sistem yang digunakan mampu melacak dan menelusur produk di pasaran dengan cepat dan tepat. Hal tersebut dilakukan dengan mengubah proses manual menjadi otomatis dengan teknologi AIDC (Automatic Identification & Data Capture). Teknologi AIDC memungkinkan identifikasi data dan riwayat produk secara cepat, mudah dan akurat. Mengapa hal ini penting?
Sebelum melanjutkan ke pembahasan yang lebih jauh, ada baiknya untuk mengetahui istilah-istilah yang digunakan pada aktivitas produksi dan distribusi. Batch produksi adalah sejumlah vaksin yang diproduksi pada waktu yang bersamaan dan menggunakan bahan yang sama sehingga memiliki kualitas dan tanggal kadaluarsa yang sama. Nomor batch, yang berupa angka dan/atau huruf, akan menjadi tanda pengenal vaksin-vaksin yang diproduksi dalam satu batch. Nomor batch bersifat unik dan direkam atau dicatat sehingga memungkinkan pelacakan atau penelusuran kembali riwayat lengkap pembuatan vaksin, end-to-end, mulai dari tahap produksi, pengawasan dan distribusi. Proses pelacakan atau penelusuran berdasarkan nomor batch disebut batch tracking. Hal ini sesuai dengan Kepmentan No 466/1999 tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB). Tidak hanya di dalam negeri, sistem ini juga telah diimplementasikan untuk vaksin ekspor China dan Pakistan.
Perekaman atau pencatatan nomor batch harus dilakukan dengan baik sehingga batch tracking dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Saat ini, Medion melakukannya dengan teknologi AIDC (simbologi barcode 2D data matrix), metode identifikasi vaksin secara otomatis, mengumpulkan data mengenai vaksin dan menyimpannya dalam sistem komputerisasi. Banyak manfaat yang didapatkan dengan diimplementasikannya teknologi AIDC.
Pertama, aktivitas pergudangan yang lebih baik. Sebab sistem FEFO (first expired first out) dapat dikontrol dengan baik. Selain itu, potensi kesalahan karena human-error dalam proses penyiapan vaksin untuk dikirimkan ke kantor cabang maupun ke peternak juga dapat diminimasi. Kedua, pelacakan dan penelusuran produk yang efisien. Dengan teknologi AIDC, pelacakan vaksin akan dapat dilakukan dengan cepat, mudah dan akurat. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi peternak dan produsen karena peternak dapat mengetahui informasi keaslian produk, tanggal manufaktur, tanggal kadaluarsa atau dari mana produk berasal. Selain itu, bermanfaat juga untuk keperluan penelusuran terkait pertanyaan dan keluhan produk.
Ketiga, meningkatnya kualitas audit. Dengan sistem pelacakan dan penelusuran yang terintegrasi, pemerintah dan Medion dapat bersama-sama mengontrol dokumentasi manufaktur. Pergerakan produk mulai dari produksi sampai distribusi ke tangan peternak dapat digambarkan dengan jelas dan lengkap. Hal ini tentu bukan menjadi akhir untuk tetap menjadi kepercayaan peternak, Medion akan terus berinovasi dan mengikuti perkembangan.
Perjalanan 45 Tahun Medion
Di usianya yang genap 45 tahun ini, Medion mengusung visi baru dengan slogan “Innovative & Holistic” sebagai semangat terbarukan untuk menjadi perusahaan multinasional yang terkemuka, tangguh, dan berkembang sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Inilah perjalanan 45 tahun Medion, perusahaan asal Indonesia yang mendunia.
Medion, Mitra Kegiatan Ekspor Terbaik

Medion, sebagai salah satu eksportir obat hewan, vaksin unggas, dan peralatan peternakan, diundang langsung untuk menghadiri pelepasan ekspor di Program Merdeka Ekspor. Melina Jonas, selaku Animal Health Director Medion, hadir di Hotel InterContinental Bali Resort, Jimbaran sebagai perwakilan perusahaan. Dalam acara tersebut, Medion mendapatkan penghargaan sebagai Mitra Kegiatan Ekspor Terbaik dari Kementrian Pertanian. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Pertanian RI, Dr H. Syahrul Yasin Limpo, S.H, M.H.
Program Merdeka Ekspor yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian (Kementan) resmi dibuka, pada 14 Agustus 2021. Program tersebut diadakan pada 17 bandara dan pelabuhan utama yang tersebar di 17 provinsi di Indonesia. Presiden Joko Widodo secara simbolis melakukan Pelepasan Merdeka Ekspor Pertanian 2021 secara virtual, dari Istana Negara, Bogor.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa pertanian adalah sektor yang tangguh karena menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Dan menurut Direktur Jenderal PKH, Nasrullah, dalam kegiatan Merdeka Ekspor 2021 ini kontribusi komoditas peternakan dan kesehatan hewan menempati posisi kedua setelah komoditas Perkebunan.
Medion, yang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-45 tersebut telah melakukan ekspor ke lebih dari 20 negara di Asia dan Afrika selama 23 tahun. Selain mengekspor produknya, Medion telah lebih dulu menjadi pemimpin di industri obat hewan dalam negeri. Produknya tersebar ke seluruh Indonesia dan telah menjadi andalan para peternak di Indonesia. Medion terus berkomitmen untuk memajukan industri peternakan Indonesia melalui berbagai kontribusinya, termasuk dengan melakukan ekspor.
Mengatasi IBH dengan Vaksinasi dari Indukan

Adanya peningkatan kematian pada ayam pedaging menjadi isu nasional yang cukup menyita perhatian di tahun 2018. Berbagai instansi melakukan investigasi penyakit unggas, salah satunya dilakukan oleh PT Medion. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa pada periode Desember 2017 – Januari 2019, ditemukan 40 kasus pada 8 provinsi di Indonesia yang menyatakan positif Fowl Adenovirus (FAdV), agen penyebab Inclusion Body Hepatitis (IBH) (Wibowo MH et al. 2019). Hingga saat ini kasus IBH masih terjadi dan meningkatkan kewaspadaan peternak mulai dari ayam pembibit sampai ayam komersil.
Inclusion Body Hepatitis (IBH) merupakan penyakit viral yang bersifat akut dan dapat ditularkan secara vertikal dan horizontal. Penyakit IBH biasanya ditemukan pada unggas umur 3-13 minggu, khususnya ayam pedaging di umur > 3 minggu dengan gejala klinis yang hampir mirip dengan penyakit lainnya, seperti penurunan nafsu makan, ayam terlihat lemah dan depresi, abdomen terlihat bengkak, serta adanya kematian tak biasa > 1% per hari. Secara patologi anatomi, gejala patognomonis dari IBH yaitu ditemukan adanya bengkak dan hemoragi pada hati dan ginjal, serta terdapat hidroperikardium. Secara histopatologi, ciri khas dari IBH adalah ditemukannya badan inklusi intranuklear pada sel hati. Perubahan fungsi berbagai organ hingga terjadi kematian itulah yang menyebabkan IBH menjadi penyakit yang cukup merugikan bagi peternak.
Dalam komitmennya membantu peternak mengurangi risiko kasus IBH, Medion melakukan berbagai penelitian tentang penyakit ini. Pada 20 September 2019, Medion telah memaparkan penelitian terkait IBH dalam “International Vaccine Development Industry Forum” yang diadakan di College of Veterinary Medicine, National Pingtung University of Science & Technology (NPUST), Taiwan. Forum ini dihadiri oleh para ahli di bidang vaksin hewan, yakni profesor dan doktor di bidang veterinary medicine dari Taiwan dan negara lain seperti Vietnam, Jepang, Thailand dan China, serta mahasiswa doctoral, graduate, dan undergraduate degree dari NPUST dan universitas lain.
Medion berhasil menemukan cara yang efektif mencegah penyakit IBH yaitu dengan vaksinasi menggunakan Medivac IBH Emulsion yang mengandung 2 virus IBH lokal Indonesia, yaitu FAdV serotipe 8b dan 11 sehingga homolog dengan isolat lapang terkini. Selain itu, Medivac IBH Emulsion juga telah dinyatakan lulus uji keamanan dan potensi sehingga efektif digunakan untuk mencegah IBH. Vaksinasi pertama menggunakan Medivac IBH Emulsion pada ayam pembibit (indukan) dengan pengulangan, terbukti mampu melindungi indukan pada masa produksi dan mengoptimalkan maternal antibodi pada anakan. Dengan didukung biosecurity dan manajemen kandang yang baik, ayam aman dari serangan IBH. Hingga Juli 2021, Medivac IBH Emulsion telah terdaftar di 2 negara Asia, yaitu Indonesia dan Kamboja.
Pentingnya Animal Research Untuk Mendukung Pengembangan Vaksin Avian Influenza (AI) di Unggas

Hampir 17 tahun penyakit Avian Influenza (AI) “bercokol” di Indonesia, yaitu sejak sekitar Agustus 2003 sampai sekarang Indonesia belum bisa dikatakan bebas AI. Sampai saat ini kita mengenal dua jenis Avian Influenza yang menyerang unggas, yakni High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang bersifat ganas dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) yang bersifat tidak ganas. Kedua jenis AI ini sama-sama menimbulkan kerugian, HPAI yang kita kenal selama ini adalah Avian Influenza subtipe H5N1 yang menyebabkan kematian tinggi pada unggas, sedangkan jenis lain tergolong LPAI yang beredar di Indonesia adalah subtipe H9N2. Dikatakan LPAI dikarenakan serangan tunggal oleh AI tipe ini tidak menimbulkan kematian yang tinggi namun menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan.
Kerugian yang muncul pada kasus Avian Influenza disebabkan karena angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi pada kasus H5N1 serta penurunan produksi telur yang signifikan pada H9N2, depopulasi unggas secara massal (stamping out) dan peningkatan biaya untuk pengobatan suportif, sanitasi, dan desinfeksi area kandang, air, serta peralatan peternakan.
Dikarenakan kerugian yang cukup besar akibat adanya infeksi AI, upaya pencegahan dengan VAKSINASI dan deteksi dini menjadi sangat penting, ditambah lagi perubahan gejala klinis dan patologi anatomi AI saat ini sudah sedikit berbeda dengan sebelumnya.
Medion sebagai produsen vaksin unggas di Indonesia, telah mengembangkan vaksin AI sejak tahun 2004 dan secara continue mengevaluasi dan mengupdate kualitas produknya. Virus Avian Influenza mudah mengalami mutasi, terbagi atas beberapa subtipe berdasarkan kemampuan antigenitas dua protein permukaannya, yaitu Hemagglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Sampai tahun 2012 telah diidentifikasi ada 16 subtipe HA (H1-H15) dan 9 subtipe NA (N1-N9) pada unggas. Protein HA merupakan bagian yang penting dari virus untuk menempel pada tubuh ayam, sedangkan protein NA berkaitan dengan kemampuan virus melepas virion (hasil perbanyakan) dari sel inang. Sifat virus AI yang tidak mempunyai sifat proof-reading ini yang menyebabkan mutasi.
Dengan sifat virus AI yang mudah mutasi tersebut, setiap produsen vaksin AI secara rutin melakukan monitoring perkembangan virus AI, salah satunya dengan sistem pemetaan AI di Indonesia. Pemetaan virus adalah metode untuk mengelola informasi secara keseluruhan melalui peta perubahan virus berbentuk percabangan yang dituangkan langsung ke dalam media tulisan atau gambar. Untuk mendeteksi perubahan virus AI, Medion memiliki fasilitas laboratorium biomolekuler yang lengkap dan memadai di Unit Laboratorium Services and Animal Testing (LAT).
Tahapan pembuatan vaksin AI dimulai dengan melakukan karakterisasi dan pemetaan virus AI, berlanjut ke pemilihan kandidat seed melalui animal research secara in vitro dan in vivo. Uji in vitro salah satunya dengan uji biomolekuler untuk karakterisasi virus AI, sedangkan uji in vivo adalah uji potensi dan keamanan (kandidat seed, formula, dan produk) di hewan coba. Animal research AI dengan melakukan uji cross protection antar virus AI dengan metode challenge. Sampai saat ini goldstandar pengujian vaksin AI di unggas dirasa efektif dengan uji tantang langsung ke hewan target (direct). Hasil uji cross protection dikombinasi dengan uji cross immunity dianalisa secara keseluruhan dengan hasil uji biomolekuler, ini akan menunjang penentuan master seed vaksin AI.
Pentingnya animal research dalam pengembangan virus AI ini didukung dengan fasilitas laboratorium animal yang memenuhi syarat Animal Biosafety Level 3 yang ada di Animal Testing LAT. Hewan uji yang digunakanpun memenuhi persyaratan spesific pathogen free (SPF) bebas dari lima belas macam penyakit unggas. Kandang animal research juga harus memenuhi syarat, bangunan jauh dari kandang non SPF, untuk meminimalkan dari kontaminasi. Gedung dilengkapi dengan isolator atau dalam gedung dengan filter udara yang bertekanan negatif. Konsutruksi gedung dibuat sedemikian rupa agar terhindar dari masuknya rodentia, burung-burung liar, serangga dan orang luar yang bukan petugas kandang .
Operator kandang animal research di BSL 3, sebelum memasuki gedung tidak boleh kontak dengan ayam lain atau dengan agen penyakit di luar pengujian, dikuatirkan terjadi saling kontaminasi antar uji. Operator kandang harus mandi dan mengganti pakaian luar dengan pakaian steril sebelum memasuki ruangan ruangan di dalam gedung. Semua barang yang akan masuk ke dalam gedung harus dalam keadaan steril demikian juga pakan ayam sebaiknya disterilkan. Air minum dialirkan melalui pipa otomatis yang telah difiltrasi dan disinari dengan UV. Pentingnya tim engineering dalam keberadaan gedung animal biosafety level sangatlah dibutuhkan terutama untuk mengontrol dan memonitoring tekanan udara kandang, sistem sterilisasi pakan dan air minum.
Dengan fasilitas kandang yang memadai, tenaga ahli yang kompeten dan dukungan tim tehnisi engineering, penelitian vaksin Avian influenza bisa dilakukan dengan lancar. Produk terjaga kualitasnya dan manusianya aman dari bahaya pathogen virus.
Medion Banjir Ucapan HUT ke-45 dari Peternak
Medion memperingati perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-45 pada Selasa, 1 Juni 2021. Bukan hanya Medion yang berbahagia, namun para peternak Indonesia juga mengucapkan selamat, doa, dan harapan untuk perusahaan produsen vaksin, obat-obatan, dan peralatan peternakan asal Bandung ini. Yuk simak apa kata mereka!
Saluran Pencernaan Optimal, Produksi Maksimal

Kecukupan nutrisi pada ayam berpengaruh besar terhadap produktivitas dan berkaitan erat dengan fungsi kerja saluran pencernaan. Saluran pencernaan yang berfungsi optimal mampu memanfaatkan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi yang berujung pada produktivitas ternak yang maksimal.
Ada banyak kondisi yang mempengaruhi saluran pencernaan ayam, salah satunya faktor stres. Jika sudah begitu ayam akan mudah terserang berbagai penyakit. Hal itu seperti yang dirasakan oleh Abdul Jalil Bahar, pengelola peternakan “Rizky Layer” yang berlokasi di Desa Bulotalangi Timur, Kecamatan Bulango Timur, Kabupaten Bolango, Provinsi Gorontalo.
Jalil bercerita, usaha peternakan ayam petelur milik sang kakak yang sudah berdiri sekitar 15 tahun ini kerap bermasalah dengan stres akibat cekaman panas, khususnya saat pergantian musim tiba.
“Masalah yang sering kita hadapi saat berganti musim, terutama saat musim panas. Mungkin akibat cekaman panas yang membuat ayam rentan stres. Akibatnya produksi menurun dan rentan terkena berbagai penyakit terutama padasaluran pencernaan,” ujar Jalil.
Ia pun sempat dibuat khawatir apabila pergantian musim tiba. “Terkadang FCR (feed conversion ratio) tinggi, namun produksi yang dihasilkan tidak mencapai target dan hanya mampu tercapai 78- 79%,” jelasnya.
Dari situ ia lantas diperkenalkan Optigrin melalui personil Medion untuk mengatasi masalah tersebut. Optigrin merupakan produk berbahan alami (natural growth promotor) dengan kandungan fitobiotik yang mampu menjaga keseimbangan mikroflora pada usus, memperbaiki performa, meningkatkan daya tahan tubuh ayam dan mengurangi kematian akibat serangan penyakit.
“Pertama kali diperkenalkan Optigrin, kita masih ragu karena ada juga produk lain yang sejenis, tapi setelah dipakai pada ayam ternyata hasilnya bagus, sehingga kami merasa cocok dan sampai saat sekarang masih dipakai,” ungkap Jalil.
Alasan tersebut karena Jalil mendapat hasil yang sangat memuaskan usai menggunakan Optigrin. “Hasilnya daya tahan tubuh ayam terhadap penyakit pencernaan lebih bagus disamping kita memberikan pakan yang berkualitas yang dapat diserap oleh ayam. Hal ini tentu sangat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan,” tuturnya.
Manfaat lain yang dirasakan Jalil yakni pembelian obat-obatan untuk mengatasi penyakit juga menurun. “Kondisi ayam yang sehat tentunya mengurangi pembelian obat. Performa ayam juga terlihat lebih baik. Produksi pun meningkat sebanyak 4%. Sampai saat ini saya masih merasa puas karena hasilnya bagus,” pungkasnya.